Wisata kuliner global

Asean Economic Community (AEC) sudah diambang pintu. Kesiapan Indonesia bersaing di pentas perdagangan global siap diuji. Produk dan jasa dari negara-negara  Asean khususnya, dan dunia umumnya akan membanjiri pasar bersaing dengan produk dan jasa lokal. Salah satunya adalah produk kuliner.  Fenomena derasnya invasi kuliner asing  makin memperjelas fakta bahwa Indonesia telah masuk daftar incaran pasar internasional.  Pilihan bagi kuliner lokal adalah bertahan dari serbuan pesaing dan membalas dengan serbuan yang tidak kalah agresifnya, atau terpuruk dan menyerah pada kejamnya persaingan.

Salah satu strategi kuliner lokal untuk survive adalah dengan mereduksi makanan lokal tidak sekedar sebagai pengisi perut tetapi mengemas menjadi atraksi wisata. Negara lain seperti Malaysia, Singapore, Thailand, Jepang, Korea, Australia telah sukses mengusung kuliner lokal sebagai ikon produk wisata andalan. Indonesia belum secara serius mengembangkan kuliner lokal sebagai aset wisata, khususnya  untuk pasar wisatawan  mancanegara  Padahal, Indonesia memiliki kekayaan kuliner Nusantara yang bersumber dari berbagai etnis dan budaya dimana masing-masing menghasilkan ciri khas kuliner tersendiri. Beberapa alahan lokal yang telah  mendunia adalah Rendang, bakso ,lawar dan nasi goreng. Makanan Indonesia lain yang layak diperkenalkan secara internasional antara lain darksoup alias rawon, aneka soto daerah, aneka salad lokal (rujak, gado-gado, keredok, asinan, semanggi, dsb), kue tradisional yang unik dan berbahan local (getuk,  tape, cobro, serabi, dsb). Semua Cuma ada di Indonesia.Dalam dunia yang serba mengglobal sebenarnya potensi unik dan aksotis seperti ini yang membuat Indonesia menarik, tiada duanya.

KULINER SEBAGAI SUMBER DAYA WISATA ALTERNATIF  

Pada awalnya  makanan hanya menjadi salah satu pelengkap kegiatan wisata. namun kemudian berkembang menjadi salah satu bentuk wisata khusus yang disebut dengan istilah wisata makanan atau food tourism. Wisata makanan(food tourism) secara umum dapat didefinisikan sebagai kunjungan ke produsen makanan, festival makanan, restorandan lokasi spesifik untuk mencicipi makanan dan / atau menikmati/mempelajari produksinya. Dengan demikian makanan, produksi makanan dan atribut khusus makanan daerah menjadi  dasar dan faktor pendorong utama dalam perjalanan wisata (Hall dan Mitchell, 2001a: 308).
Kebutuhan akan makanan menjadi faktor utama dalam mempengaruhi perilaku perjalanan dan pengambilan keputusan itu sebagai bentuk perjalanan minat khusus. Wisatamakanan dapat berupa wisatawan biasa atau wisata kuliner, gourmet gastronomi,  sebagai   bentuk rekreasi dari food tourism yang lebih serius (Hall dan Mitchell, 2001; Wagner,2001).

Hall (2002) berpendapat bahwa minuman (misalnya: wine) makanan dan industri pariwisata yang mengandalkan ciri khas regional dapat digunakan untuk mengembangkan pasar dan melakukan promosi. Dengan  sebutan, khusustersebut,   dapat menjadi sumber penting dan nilai tambahdaerah pedesaan. (Hall dan Sharples, 2003:10). Ciri khas regional atau setempat dapat menjadi statement penting dalam melakukan promosi produk wisata dan menjai nilai tambah yang menjual.Ada beberapa bentuk/varian food tourism (Hall dan Sharples, 2003:11):

1. Rural/urban tourism yaitu kegiatan berkunjung di restoran/tempat makan saat berwisata, festival makanan lokal karena berbeda, sebagai wujud adanya kebutuhan makan minum selama berwisata. Ketertarikan terhadap makanan lokal tergolong rendah, karena tujuan utamanya bukan untuk menikmati makanan lokal melainkan berwisata.
2. Culinary tourism yaitu mengunjungi pasar  tradisional, restoran lokal, festival makanan saat datang ke destinasi wisata,  Ketertarikan terhadap makanan lokal tergolong sedang karana menikmati menu lokal merupakan bagian dari aktivitas gaya hidup mereka. Varian food tourism ini yang kemudian dikenal dengan istilah wisata kuliner.
3. Gastronomi tourism/cuisine tourism/gourmet tourismyaitu bepergian ke destinasi khusus untuk menikmati makanan lokal, festival makanan, atau mempelajari makanan lokal secara serius. Menikmati/mempelajari makanan lokal sebagai tujuan/daya tarik utama kegiatan perjalanan, dan memiliki ketertarikan tinggi terhadap makanan lokal.

 

Istilah wisata kuliner dikembangkan oleh Lucy Long (2004: 20-21) yang mendefinisikan wisata kuliner sebagai kegitan yang dilakukan secara sengaja untuk mengalami, menjelajah, dan berpartisipasi dalam foodways (cara makan) orang lain tidak terbatas hanya untuk konsumsi, namun juga terlibat dalam persiapan, dan penyajian makanan. Long ( 2004) menekankan bahwa menikmati makanan  orang lain adalah cara yang benar-benar total untuk mengalami dan menerima budaya yang berbeda tanpa perasaan enggan.Pengembangan budaya lokal termasuk makanan lokal memiliki nilai strategis selain menciptakan atraksi wisata alternative   juga menjadi instrument untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Dengan mengembangkan  atraksi wisata potensial yang bersumber dari makanan tradisional sekaligus merupakan upaya untuk melestarikan makanan tradisional agar tidak hilang di telan perubahan jaman. 

Tidak semua makanan lokal dapat dikembangkan sebagai atraksi wisata. Hobsbawn dan Ranger (1983 ) berpendapat bahwa masakan yang sangat dikenal rasa dan kualitasnya saja yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata. Sebagai contoh, masakan Italia dan anggur telah meningkatkan industri pariwisata Italia ( Hjalager dan Corigliano, 2000).Kegiatan kuliner atau gastronomis destinasi juga dikategorikan sebagai bagian dari pariwisata budaya. Richards (1996) menyatakan bahwa pariwisata budaya mungkin termasuk mengalami atraksi budaya serta mencicipi makanan lokal. Kim (1998) mengungkapkan bahwa determinan budaya merupakan aspek penting dari permintaan pariwisata di seluruh dunia. wisatawan budaya umumnya tertarik pada produk dan budaya destinasi tertentu serta mengalami dan belajar tentang budaya ( Richards , 1996). Dengan demikian atraksi wisata kuliner lokal merupakan cerminan budaya setempat. Destinasi dapat menggunakan makanan untukmewakili “pengalaman budaya , status, identitas budaya , dan berkomunikasi” (Frochot, 2003: 82). Pengembangan budaya lokal termasuk makanan lokal memiliki nilai strategis selain menciptakan atraksi wisata alternative   juga menjadi instrument untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

 

KETERKAITAN KULINER DAN PARIWISATA

Menurut Hall dan Sharples  (2003:1) makanan adalah elemen penting dalam pengalaman wisata. Di San Fransisco belanja wisata untuk  makanan dan minum mencapai  28 % dari seluruh total belanja wisata, dan di New Mexico mencapai 25,5 %.  Prosentase tersebut menunjukkan pentingnya peran belanja makanan dan minuman dalam kegiatan wisata. Di Bali belanja wisata untuk  makan dan minum  mencapai 12% (Fandeli, 2002).  

Makanan dan minuman merupakan produk yang memiliki nilai penting dalam industri pariwisata. Bisnis makanan saat inin telah  memberi kontribusi sekitar 19,33 % dari total penghasilan industri pariwisata khususnya yang berasal dari wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan data bahwa wisatawan menghabiskan hampir 40% dari anggaran mereka untuk makanan ketika bepergian ( Boyne , Williams , & Hall , 2002) Pada tahun 2004 Restaurant & Foodservice Market Research Handbook menyatakan bahwa 50 % dari pendapatan restoran dihasilkan oleh wisatawan (Graziani, 2003). Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan simbiosis antara makanan dan industri pariwisata. Bahkan hubungan antara makanandan tujuan wisata yang  spesifik seperti wisata makanan, wisata kuliner dan wisata gastronomi mulai menjadi subjek penelitian yang menarik ( Lin et al, 2011:32). Makanan sebagai kebutuhan dasar di perjalanan dan prasyarat pentinguntuk kegiatan wisata lainnya, sangat terkait dengankesejahteraan dan kepuasan wisatawan. Wisatawan tidakdapat menghindari makan ( dan minum ), bahkan jika makanan yang tersedia tidak dikenal, enak, bahkan menjijikkan atau menakutkan sekalipun (Cohen, 2004: 758).

Pentingnya hubungan antara makanan dan pariwisata ditegaskan John Selwood (1993) dengan statement:  Food  is one of the most important attractions sought out by tourists in their craving for  new and unforgettable experiences. Makanan punya kekuatan besar untuk  untuk menjadi attraksi wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan mancanegara maupun nusantara. Makanan bisa menjadi petualangan baru yang diidamkan, berkesan dan tak terlupakan bagi wisatawan mancanegara yang baru merasakan sensasi makan tradisional.Sedangkan bagi wisatawan nusantara makanan tradisional daerah sendiri atau daerah lain menjadi sumber sensasi tersendiri dan memperkaya pengalaman lidah. Hu dan Ritchie ( 1993) menekankan bahwa makanan adalah faktor keempat atau alasan untuk mengunjungi suatu destinasi wisata setelah cuaca, akomodasi, dan pemandangan.

Setiap destinasi memiliki tingkat daya tarik yang berbeda yang dapat menarik wisatawan dari berbagai negara Keotentikan dan kemenarikan makanan dapat menarik pengunjung untuk datang ke destinasi (Au dan Law, 2002).  Getz dan Brown ( 2006) bahwa wisata kuliner dapat dikaitkan dengan minat wisatawan pada makanan dari destinasi. Di sisi lain , destinasi akan menggunakan makanan sebagai daya tarik utama dan akan mengembangkan strategi pemasaran yang akan fokus pada makanan.

Menurut Riley (2000) , asosiasi masakan nasional dan pariwisata menegaskan peran penting masakan dalam sosial budaya dan menciptakan identitas nasional. Dengan demikian,destinasi dapat menggunakan masakan sebagai strategi pemasaran .Menurut Jones dan Jenkins ( 2002) makanan tidak hanya kebutuhan dasar bagi turis, tetapi juga elemen budaya yang positif dapat menyajikan destinasi mengingat bahwa makanan dapat digunakan untuk memproyeksikan identitas dan budaya destinasi, konsumsi pangan dapat digunakan dalam pengembangan image destinasi (Quan & Wang, 2004). Selain itu, konsumsi pangan juga berkontribusi terhadap perekonomian di destinasi, dan menyediakan wisatawan dengan pengalaman lokal.

 

 

 

KENDALA DAN SOLUSI

Indonesia memiliki 34 propinsi yang masing-masingmenyimpan potensi makanan tradional yang berlimpah  baik jenis bentuk, jenis maupun rasa. Namun potensi yang ada belum maksimal dikembangkan sebagai atraksi wisata sehingga masyarakat belum mendapatkan manfaat yang maksimal dengan keberadaan makanan tradisional. Secara umum  kelemahan pengembangan pariwisata nasional adalah kecenderungan pemerintah untuk mengekor model pembangunan pariwisata di negara lain kurang menemukan ‘greget’ pada sumber daya pariwisata yang ada sehingga kurang mampu menciptakan model pembangunan pariwisata yang otentik, menarik, dan bersumber pada kekayaan lokal. Kendala lain dari pengembangan wisata kuliner adalah belum ditemukan daya tarik berupa otentisitas dan foodway serta dukungan aspek budaya dalam makanan tradisional  yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Untuk itu dipelukan riset-riset berkaitan dengan upaya mengeksplorasi kekayaan budaya khususnya makanan lokal (tata boga). 

Untuk mengangkat kuliner lokal sebagai atraksi wisata diperlukan strategi yang komprehensif. Pertama, mengidentifikasi jenis-jenis makanan lokal yang memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai ikon dan daya tarik wisatawan. Perlu disusun database tentang aneke jenis menu tradisional (kue, minuman, makanan,dsb) yang akan menambah daftar panjang potensi menu local yang menjadi asset nasional dan siap mengglobal, Kedua, memetakan situasi dan kondisi yang melingkupi perkembangan menu lokal di daerah seperti popularitas jenis makanan di wilayah setempat, penyediaan makanan di restoran/depot/warung, teknologi memasak setempat, dan cara menu ditampilkan/dipresentasikan, Denga memetakan situasi dan kondisi dapat dilakukan langkah pembenahan atau meningkatan kulitas makanan lokal agar memiliki standar (bahan, pengolaahan dan penyajian). Ketiga, perlu merancang bentuk kegiatan food tourism  (meliputi atraksi, event) yang diintegrasikan dengan   daya tarik wisata setempat. Keempat, perlu merencanakan branding yang tepat  untuk mengangkat pamor makanana lokal sebagai sumber daya wisata global.

 

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started